ARSITEKTUR ONLINE

ARSITEKTUR ONLINE


JASA DISAIN ARSITEKTUR


Cari Arsitek disini tempatnya...........

Arsitektur Online adalah penyedia jasa arsitek yang dilakukan secara online dimana berfokus pada keperluan desain arsitektur. Mulai data dari owner di kirim via email terus komunikasi penyajian desain juga via email sampai penyajian terakhir bisa dikirim via pos. Dengan keberadaan online internet kita bisa menjangkau ke seluruh pelosok nusantara bahkan dunia untuk memenuhi kebutuhan desain arsitektur dengan mudahnya untuk itu www.onarsitek.com berdiri.

Desain Arsitektur

Kebutuhan desain arsitektur baik keperluan eksterior maupun interior mulai dari rumah tinggal, kantor, ruko ( rumah toko ), villa, gudang, hotel, mall, apartemen, tempat ibadah, dll tergantung permintaan owner.

Desain Rumah

Didalam proses pelaksanaan suatu rumah tinggal perlu adanya desain yang dapat dijadikan acuan / pegangan supaya lebih memudahkan didalam pengerjaan proyek rumah tinggal untuk itu desain rumah mutlak adanya apalagi rumah mewah yang banyak sekali memerlukan suatu apresiasi didalam proses menuangkan ide-idenya.

Produk Arsitektur

Untuk mencukupi keperluan didalam suatu proyek maka dibutuhkan gambar konsep, gambar penyajian, gambar kerja khususnya arsitektur untuk itu onarsitek berusaha untuk memenuhi kebetuhan tersebut.

Penyajian Arsitektur

Didalam penyampaian kepada konsumen perlu adanya suatu hal yang dapat memperjelas pengertian terhadap owner untuk itu diperlukan penyajian arsitektur yang mudah pengplikasiannya, maka perlu suatu produk digital yang dapat membantu untuk membuka pandangan masyarakat awam

Seluruh Indonesia

Untuk sementara waktu ini onarsitek hanya bisa melayani customer seluruh Indonesia, tetapi untuk jangka panjang tidak menutup kemungkinan bisa seluruh dunia.

ORDER DESAIN

Kamis, 29 April 2010

Gedung Hijau Pencakar Langit di New York

Gedung Hijau Pencakar Langit di New York



Gedung Hijau berbentuk sayap seperti sayap kupu-kupu (menurut ku) tapi katanya kek Dragon Fly, akan mulai dibangun di kota New York tahun 2009 ini merupakan revolusi pertanian kota-kota di seluruh dunia.

Gedung Hijau yang akan dibangun tersebut dibuat dengan tinggi 600 meter, dirancang oleh perancang Belgia Vincent Callebaut dan akan berdiri di Roosevelt Island di New York. Berbentuk seperti 2 sayap kupu-kupu tersebut satu sama lainnya terhubung dengan kaca dan besi berdiri dengan 132 lantai akan memberikan ruang perkotaan pertanian dengan cukup ruang untuk meningkatkan ternak unggas dan 28 jenis tanaman.

Terdapat juga ruang untuk perumahan dan perkantoran dengan dinding dan langit-langit yang digunakan untuk dapur tanaman, Setiap tingkat akan diolah oleh warga.

Mengutip pemberitaan Daily Mail, gedung tersebut menggunakan penghangat tenaga matahari jika musim dingin tiba untuk kehangatan tanaman, apabila musim panas tiba akan tetap dingin dengan ventilasi alami dan evapo-perspiration dari tanaman.

Sementara Lilypad dirancang untuk menanggulangi kenaikan permukaan laut di masa mendatang, Dragonfly yang telah disusun untuk menangani kekurangan pangan dunia dimana penduduk dunia dimasa yang akan datang terus booming.





Sumber : http://makalah-artikel-online.blogspot.com

Geometri sebagai Ekspresi Kebebasan Bentuk

Geometri sebagai Ekspresi Kebebasan Bentuk

Pro-kontra mengenai geometri itu sebagai sesuatu yang mengikat ataupun membebaskan di dalam dunia arsitektur, mungkin tidak akan ada habisnya untuk dibahas atau dicari solusinya, semuanya itu tergantung dari persepsi kita masing-masing. Antara geometri itu mengikat atau membebaskan, masing-masing memiliki kedudukan atau posisi yang sama kuat. Tetapi pada kesempatan ini, saya akan coba membahas geometri sebagai sesuatu yang membebaskan di dalam dunia arsitektur. Mungkin pertanyaan yang timbul adalah: Seperti apakah kebebasan yang ada di dalam geometri? Dalam wujud apakah kebebasan itu?"

"…,because we don’t want to exclude everything in architecture that makes us uneasy. We want architecture that has more to offer. Architecture that bleeds, exhausts, that turns and even breaks, as far as I am concerned. Architecture that glows, that stabs, that tears and rips when stretched. Architecture must be precipitous, fiery, smooth, hard, angular, brutal, round, tender, colorful, obscene, randy, dreamy, en-nearing, distancing, wet, dry and heart-stopping. Dead or alive. If it is cold, then cold as a block of ice. If it is hot, then as hot as a tongue of flame. Architecture must burn! " (Coop Himmelb(l)au, Covering and Exposing: The Architecture of Coop Himmelb(l)au)

Mungkin kata-kata atau filosofi utama dari Coop Himmelb(l)au inilah yang akan mengawali pembahasan geometri sebagai sesuatu yang membebaskan di dalam dunia arsitektur. Untuk lebih jelasnya, saya akan mencoba sedikit mengupas mengenai sejarah dari Coop Himmelb(l)au. Coop Himmelb(l)au yang didirikan oleh Wolf D. Prix dan Helmut Swiczinsky pada tahun 1968 di Vienna (Austria) adalah salah satu praktisi arsitektur muda pada masa itu dengan ide-ide baru yang cukup radikal. Modernisme dengan dominasi rasionalitasnya dianggap membatasi arsitek dalam menjelajahi kemungkinan bentuk-bentuk baru dalam bahasa arsitektur. Oleh karena itu, Coop Himmelb(l)au berusaha mengeksplorasi dan mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam “bahasa arsitektural”. Coop Himmelb(l)au berusaha menciptakan perubahan mendasar pada arsitektur, urbanisme, struktur, dan tektonik. Dapat dikatakan Coop Himmelb(l)au berusaha mencari ”arsitektur yang merdeka”.


Gambar 1. Musee des Confluences, Lyon, France
Sumber: Covering and Exposing: The Architecture of Coop Himmel(b)lau


Gambar 2. UFA Cinema Center, Dresden, Germany
Sumber: Covering and Exposing; The Architecture of Coop Himmel(b)lau


Dari pendapat dan pemikiran Coop Himmelb(l)au inilah, saya berpendapat bahwa geometri sebagai sesuatu yang membebaskan, atau lebih tepatnya geometri menghasilkan bentuk (form) arsitektur yang bebas. Walaupun cara-cara pemikiran dari geometri beserta dengan aturan atau kaidah yang ada di dalamnya bersifat mengikat, namun hasilnya pada akhirnya akan membawa kita ke dalam suatu kebebasan bentuk dan ekspresi, yaitu dunia arsitektur yang merdeka. Karena yang kita rasakan adalah form dan experience dalam bentuk ruang 3 dimensional dan waktu (space and time).

Mungkin hal-hal seperti itulah yang tidak disadari oleh diri kita. Karena pada dasarnya, dari pendidikan sekolah kanak-kanak sampai sekolah menengah, kita hanya mengenal bentuk-bentuk geometri dasar, seperti kubus, kotak, limas, balok, prisma, silinder, bola, dan bentuk lainnya. Dan pada saat itu kita hanya bersifat pasif atau diam menerima apa adanya. Sehingga semuanya seakan terbungkus menjadi suatu doktrin atau pemikiran, bahwa seperti itulah geometri. Padahal jika kita telusuri lebih lanjut dan lebih dalam lagi, geometri bukanlah hanya seperti itu. Geometri berarti ilmu ukur suatu ruang. Dan ruang yang dimaksud adalah bumi, tempat kita sebagai manusia hidup dan menetap. Jadi geometri berarti measuring the earth. Kata-kata ”bumi” (geo) inilah yang tidak disadari oleh kita, padahal kata-kata “bumi” merupakan sesuatu yang sangat krusial di dalam pengertian dasar mengenai arti dari geometri.

Bumi adalah alam, dan alam pada dasarnya adalah sesuatu yang dinamis dan tidak statis, penuh dengan perubahan. Alam merupakan sesuatu yang bebas, tidak terikat. Dari pengertian ini, kita bisa menyimpulkan bahwa geometri adalah sesuatu yang pada dasarnya adalah bebas, penuh dengan kedinamisan.

Selama ini, pengertian kita mengenai geometri hanya terpaku oleh bentuk-bentuk Euclidean geometry saja, padahal pengertian dari geometri lebih dari itu. Sama halnya dengan pengertian dari kata yang diucapkan oleh Coop Himmelb(l)au, ”Architecture must burn”. Bahwa ”Architecture must burn” itu tidak hanya sekedar arsitektur, tetapi lebih kepada bagaimana kita melihat dunia ini. Dunia arsitektur seharusnya mengungkapkan suatu potensi baru (unknown) di dunia nyata yang tidak pernah kita sadari.

Dunia geometri sebenarnya merupakan dunia yang kaya akan potensi yang baru. Geometri mengandung pengertian yang sangat luas. Sebagai contoh adalah suatu bentuk geometri adalah berupa form yang menghasilkan suatu visual perception, di mana perception merupakan conscious experience of object. Masing-masing orang sebagai subjek yang merasakan ruang (experience) mempunyai kebebasan di dalam mempersepsikan ruang tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika persepsi masing-masing orang mengenai ekspresi maupun bentuk geometri itu berbeda-beda.

Di dalam geometri, kita juga dapat menemukan unsur-unsur yang ada di dalam dunia musik. Ritme dan irama dapat ditampilkan melalui wujud dan ekspresi sebuah form dari karya arsitektur. Ekspresi yang ditimbulkannya pun bisa bermacam-macam, dan sangat mempengaruhi persepsi kita masing-masing. Karena posisi kita sebagai manusia yang merasakan suatu ruang adalah sebagai subjek yang mempersepsikan sebuah objek.

Bukti lain bahwa geometri itu merupakan suatu dunia yang kaya dan luas adalah adanya pengertian mengenai topologi dan mobius strip. Di dalam topologi terjadi sesuatu yang dinamakan deformasi. Deformasi terjadi oleh karena suatu gaya (force), namun konektivitas (connectivity) di dalam form atau bentuk geometri tersebut tetap terjaga. Sehingga terwujud suatu keutuhan (wholeness) di dalam form tersebut. Hal ini seharusnya juga berlaku di dalam setiap karya arsitektur. Meskipun suatu karya arsitektur terlepas dari bentuk-bentuk yang mengikat seperti bentuk Euclidean, tetapi karya ”arsitektur yang bebas” itu juga harus tetap mengutamakan konektivitas dan keutuhan.


Gambar 3. Mobius strip
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/mobius_strip


Deformasi atau perubahan ini pun sekarang sangat mempengaruhi bentuk (form) dari geometri. Gagasan tentang bentuk geometri pun mulai berubah. Ruang dan geometri bergeser dari geometri Euclidean dengan aturan translasinya dalam ruang cartesian ke geometri topologi dengan perubahan vektoralnya, sehingga bentuk dari karya arsitektur itu sendiri menjadi bebas dan tidak terikat lagi oleh aturan-aturan klasik. Inilah yang dikenal dengan sebutan gagasan flux (sebuah konstelasi sementara yang terus bergerak dan berubah) di dalam dunia arsitektur yang menghadirkan persepsi baru terhadap ruang dan bentuk karya rancang arsitektur secara konseptual maupun dalam pengapresiasiannya. Bentuk dan ruang seolah berkembang dan lahir dari sebuah alur perubahan yang dinamis dalam ruang. Hal ini merupakan ekspresi kebebasan suatu bentuk (form) dalam geometri.

Bahkan ilmu biologi pun dapat diterapkan pada bentukan dari geometri. Sehingga tidak heran jika karya-karya arsitektur, banyak yang berbentuk atau mengadopsi natural form. Pada saat ini di dalam geometri dan arsitektur, bentuk-bentuk yang biasa kita kenal telah hilang, seakan-akan seperti ditelan oleh cepatnya perubahan. Lalu muncullah bentuk yang benar-benar baru, aneh, dan terasa asing, tetapi tetap merupakan ruang tempat hidup manusia. Arsitektur dan geometri tidak harus menuruti apa yang telah ada sebelumnya, tetapi mewujudkan sebuah ruang yang bebas dimana kita dapat menjelajahinya. Pada akhirnya arsitektur dan geometri harus membuat tempat yang disebut sebagai ruang kebebasan. Sebagai bentuk dan ekspresi kebebasan diri, terkadang arsitektur diwujudkan sebagai bentuk atau form yang mungkin saja tidak dapat hadir di dalam dunia nyata, tetapi hanya dapat hadir di dalam suatu imajinasi atau electrosphere dengan bantuan kecanggihan teknologi virtual.

Di dalam geometri kita juga diberikan kebebasan untuk menggunakan ide di dalam merancang suatu karya arsitektur (form). Ternyata banyak sekali alternatif atau pilihan prinsip geometri di dalam merancang, seperti menggunakan prinsip classical idea, euclidean, non-euclidean, topologi, teori gestalt, teori gibson, taksonomi, dan lainnya. Hal-hal inilah yang sebenarnya tidak kita ketahui sebelumnya, bahwa di dalam geometri terdapat banyak ide atau pemikiran. Sehingga suatu bentuk dan karya arsitektur yang dihasilkan pun akan sangat kaya dan beragam ekspresinya maupun wujudnya.

Bentuk atau form yang ”bebas” bukanlah berarti suatu bentuk yang sebebas-bebasnya. Arsitektur tetap harus dapat menjadi perlambang sesuatu, atau pun perlambang dirinya sendiri. Arsitektur harus dapat menyampaikan isi atau makna yang terkandung di dalamnya. Lebih jauh lagi, arsitektur harus dapat memicu pertanyaan, ”Mengapa dan bagaimana ia diciptakan?”. Something di dalam geometri itulah yang sangat penting sebagai proses pembentukan suatu form atau karya arsitektur. Arsitektur yang baik adalah arsitektur yang dengan jujur mengupas segalanya hingga menjadi jelas. Proses pembentukan form ini seringkali menjadi hal yang terlewatkan untuk kita sadari ketika sedang merancang. Padahal proses pembentukan form itulah yang sangat penting untuk kita ketahui. Suatu bentuk yang sederhana sekali pun, pada dasarnya memiliki arti di dalamnya, baik itu proses pembentukan maupun kehadirannya.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah, berdasarkan pengertian dari geometri (measuring the earth), geometri adalah sesuatu yang dinamis. Kita terperangkap pada pemikiran-pemikiran kuno mengenai geometri. Jika ditelusuri atau dipahami lebih lanjut, geometri lebih dari itu. Geometri dapat menghasilkan bentuk (form) karya arsitektur yang bebas. Kita juga dapat secara bebas menggunakan kaidah-kaidah yang ada di dalam geometri, sebagai dasar untuk menghasilkan suatu bentuk atau karya arsitektur. Sehingga suatu karya arsitektur menjadi sesuatu yang benar-benar merdeka dan bebas baik dari segi ekspresi bentuknya (form). Kata bebas atau merdeka di sini tidak berarti mengandung pengertian yang sebebas-bebasnya. Tetapi tetap mengacu kepada something yang ada di dalam geometri, sebagai proses pembentukan suatu form atau karya arsitektur.

Sumber : http://www.arsitektur.net/2007-1-1/widyanto_geometri.html

Referensi

Betsky, A. & Adigard, E. (2000). Architecture Must Burn. London: Thames & Hudson.

Architecture and Anthropology. (2006). Architectural Design Magazine. Academy Group.

Covering and Exposing: The Architecture of Coop Himmelb(l)au.

http://en.wikipedia.org/wiki/mobius strip

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/21/desain/3249855.htm

www.math.wayne.edu/~rrb/topology.html

www.webopedia.com/TERM/T/topology.html

Ruang Keluarga Modern dan Maskulin

Ruang Keluarga Modern dan Maskulin




RUANG keluarga dilengkapi dengan sofa L enam dudukan. Warnanya cokelat tua. Dipilih untuk memunculkan kesan hangat dan nyaman. Warna sofa ini dibuat senada dengan warna coffe table.

Biasanya gaya maskulin, tidak menggunakan banyak bantal pada sofa. Namun, agar ruangan tidak berkesan monoton, ditambahkanlah bantal pada sofa. Permainan berbagai motif, seperti motif garis dan sisik ikan, tampil pada penataan bantal. Pilihan warna dan motif bantal juga dibuat selaras dengan warna furnitur.

Pada sudut ini, warna ruangan dibuat bergradasi dari warna terang ke gelap. Putih pada dinding, cokelat pada furnitur, dan hitam pada beberapa bantal. Setiap benda yang ada dalam ruangan, mewakili warna-warna dalam deretan gradasi. Sehingga tampilannya tetap rapi, walaupun ada beberapa motif yang sengaja "ditabrakkan".

Sebagai aksen ruangan, ada beberapa lukisan kain. Lukisan tersebut sebenarnya terbuat dari kain-kain bahan upholstery (penutup sofa). Ide kreatif ini bisa menjadi alternatif. Terutama jika Anda kesulitan mendapatkan hiasan dinding yang pas dengan ruangan. Lukisan kain ini juga bisa disesuaikan dengan warna dan motif furnitur.

Penulis: Anissa
Foto: Rai
Lokasi dan properti: Savana Furniture, Kemang Raya, Jakarta Selatan

Sumber : http://2u-sweethome.blogspot.com/

Arsitektur Islam, Seperti Apa?

Arsitektur Islam, Seperti Apa?

Sewaktu membahas arsitektur Islam, kita pasti tidak bisa lepas dari membahas bangunan masjid. Dari arsitektur mesjidlah, pembahasan mengenai arsitektur Islam dimulai dan bermuara. Sebelumnya, kita sering mengidentikkan bangunan masjid dengan ciri khas kubah di bagian atasnya. Padahal bentuk kubah, begitu ditelusuri dalam sejarah arsitektur, berasal dari Romawi. Bukan dari wilayah dimana Islam berasal dan berkembang. Bahkan, bangunan ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam, dan menjadi titik pusat kota Mekkah, diperintahkan Allah kepada Nabi Ibrahiim, tanpa mensyaratkan bentuk apapun. Nabi Ibrahimpun membangunnya dengan interpretasi bentuk yang sederhana, kotak persegi.

Sekarang memang bentuk masjid berkembang dengan ragam bentuk yang bervariasi, tidak melulu mengandalkan bentuk kubah beserta lengkungannya yang khas. Masjid Salman ITB dengan bentuk kotak dan perseginya. Kemudian Masjid al-Markaz Makassar dengan bentuk atap khas Indonesia, segitiga, dengan hiasan geometris yang cukup beragam. Yang perlu dicatat, secara eksplisit dalam ajaran Islam tidak pernah mensyaratkan bentuk tertentu untuk diterapkan dalam bangunan fisik ummatnya. Islam hanya mensyaratkan dan memberi batasan mengenai prinsip-prinsip umum yang bersifat maknawi, seperti kesucian, kebersihan, dan keindahan. Bagaimana suatu bangunan itu menggambarkan kesucian, mewujudkan kebersihan, dan terlihat indah bagi yang melihatnya, kita diberikan kebebasan interpretasi dan aplikasi dalam penerapan di lapangan. (Tapi ada satu prinsip yang terasa kontradiktif dalam penerapannya di lapangan, yang akan di bahas nanti di akhir).

Sehubungan dengan bangunan masjid bergaya Timur Tengah yang sering dikait-kaitkan sebagai bangunan bergaya arsitektur Islam yang sesungguhnya, saya kurang setuju. Seperti halnya mengidentikkan Islam dengan Timur Tengah atau Arab. Islam memang lahir dan berkembang di Arab, tapi bukan berarti segala sesuatu yang berasal dan berbau Arab sudah pasti mewakili Islam. Bahkan Islam hadir di Arab, dengan salah satu agendanya adalah merevisi budaya-budaya menyimpang yang berkembang di wilayah Arab. Budaya itu dikenal dengan budaya jahiliah. Budaya Arab yang bersifat lokalis, hanya cocok untuk masyarakat Arab atau Timur Tengah. Ia tidak bisa dipaksakan untuk diterapkan di wilayah lain di luar wilayah Arab, dengan mengatasnamakan Islam. Arsitektur adalah bagian dari budaya yang dipunyai oleh masing-masing masyarakat yang mempunyai ciri khasnya sendiri, sesuai dengan kekhasan wilayahnya. Kita tentu tahu, Indonesia mempunyai banyak ragam rumah tradisional yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dikarenakan wilayah Indonesia yang cukup luas dengan ratusan suku yang hidup di dalamnya, dan mempunyai budaya masing-masing yang khas.

Dengan begitu, masjid yang dibangun di Arab ‘mestinya’ akan berbeda dengan masjid yang dibangun di Indonesia. Menyamakan semua bentuk masjid yang tersebar di seluruh wilayah dunia dengan bentuk masjid yang dibangun di Arab, bahkan mematenkan bentuknya, adalah sebuah bentuk pelanggaran budaya. Untuk mewujudkan arsitektur Islam, atau arsitektur bernuansa dan bernafaskan Islam, kita hanya harus mematuhi prinsip-prinsip umum yang digariskan di dalamnya. Apa prinsip-prinsip umum itu? Semuanya tertuang dalam al-Quran, landasan pokok ajaran Islam, ditunjang oleh sunnah-sunnah Nabi yang terangkum dalam hadits Rasulullah.

Prinsip-prinsip umum ajaran Islam mengenai sholat mesti diterapkan dalam bangunan masjid. Karena sesuai dengan namanya, masjid adalah tempat umat Islam bersujud, sholat mengahadap Allah Swt. Yang pertama mengenai qiblat, arah hadap sholat. Bangunan masjid mesti menyesuaikan dengan arah Qiblat. Kalau tidak bangunannya, ya susunan interior di dalamnya. Ada kalanya suatu bangunan yang sudah ada, yang sebelumnya berfungsi sebagai bangunan umum, dirubah fungsinya sebagai masjid, seperti contohnya masjid Cut Meutia, Jakarta. Dikarenakan arah bangunannya tidak sesuai dengan arah qiblat, maka interior bagian dalamnyalah yang menyesuaikan. Begitu masuk ke ruangan masjid, kita akan melihat deretan shof yang miring, yang sudutnya berbeda dengan persegi ruangan. Idealnya yang mengikuti arah qiblat adalah arah bangunannya, karena bila yang menyesuaikan arah qiblat adalah ruangan interiornya, maka daya tampung jamaah sholat tidak akan maksimal dikarenakan banyak ruangan shof yang terbuang (hasil sudut yang berbeda antara garis shof dengan persegi ruangan).

Yang kedua mengenai baris shof. Aturan mengenai baris shof ini akan menghasilkan modul baris shof. Dimensi baris shof adalah dimensi yang didapatkan dari kegiatan sholat, utamanya adalah ketika orang bersujud, yaitu sekitar 120 cm, dengan ukuran lebar orang sholat adalah 50-60 cm. Sebelum membangun masjid, mesti ditetapkan terlebih dahulu, berapa orang jamaah sholat yang akan ditampung, disesuaikan dengan luas lahan yang ada. Misal, ditetapkan jumlah jamaah yang akan ditampung sebanyak 400 orang, maka dari modul ukuran orang sholat akan didapatkan dimensi ruangan masjid 12 kali 20 meter, yang terdiri dari 10 baris shof. Tiap baris shof terdiri dari 20 orang jamaah. Ini baru hitungan kasar. Dalam pelaksanaannya, harus diperhitungkan pula tiang bangunan masjid yang berada di dalam ruangan masjid, yang jumlahnya akan mengurangi daya tampung jamaah. Lebar tiang utama umumnya berkisar antara 30 sampai 40 cm. Satu tiang akan mengurangi jumlah satu orang jamaah sholat. Idealnya, ruangan sholat bersih dari adanya tiang-tiang struktur, sehingga jumlah jamaah sholat bisa maksimal, dan tidak ada bagian yang satu jamaah terpisah dengan jamaah lain dengan adanya tiang. Teknologi struktur mutakhir memungkinkan suatu bangunan dengan bentangan luas dapat terbangun, tanpa adanya tiang-tiang struktur di tengah-tengahnya. Seperti struktur baja bentang lebar (pre stressed), maupun struktur space frame. Bangunan masjid masa kini, bisa memanfaatkan teknologi tersebut.


Sumber : http://muhipro.wordpress.com/

ARSITEKTUR JENGKI

ARSITEKTUR JENGKI

Sampai saat Majalah Arsindo ini sampai ditangan pembacanya. Berapa
banyak langgam Arsitektur yang telah hadir dihadapan kita? Pasti
susah untuk menghitungnya. Tetapi kalau kepada setiap arsitek
Indonesia ditanya mengenai langgam-langgam tadi, dengan lancar
mereka akan menjelaskannya. Terutama langgam mancanegara. Misalnya,
Post Medern, Modern, Art Deco dan lain sebagainya. Tapi jika
mereka ditanya apakah mereka tahu bahwa khasanah arsitektur
Indonesia pernah punya langgam yang mencerminkan semangat
kemerdekaan. Rasanya tidak banyak yang tahu. Melalui hasil wawancara
dengan Ir. Joseph Priyotomo. M.Arch mengenai arsitektur Jengki
ini diharapkan akan menambah wawasan para arsitek Indonesia
mengenai langgam arsitekturnya sendiri.

Kelahiran Arsitektur Jengki

Pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan sekitar tahun 1950-1960-an.
Sebagai hasil dari kemerdekaan. Timbul semangat pembebasan diri dari
segala hal yang berbau kolonialisme. "Dilain sisi, kemerdekaan
itu terjadi pada saat kita tidak memiliki tenaga ahli asing",
jelas Ir. Joseph. Tenaga ahli asing yang ada sebagian besar orang
Belanda. Karena adanya pertikaian antara Indonesia dengan Belanda
mengenai Irian Jaya, mereka harus meninggalkan Indonesia.
Pembangunan tidak boleh berhenti. "Sementara itu timbul keinginan
kuat untuk menampilkan jati diri bangsa yang merdeka", tutur arsitek
yang akrbat dipanggil pak Joseph ini. Dalam keadaan yang serba
sulit ini, pemerintah Indonesia memanfaatkan siapa saja yang
mampu bekerja dibidang konstruksi. Kebetulan kemampuan bekerja
ini dimiliki oleh mereka yang pernah bekerja di perusahaan
konstruksi pada masa pendudukan. Misalnya kantor Pekerjaan Umum,
Biro Arsitek atau Kontraktor Belanda. Kebanyak dari mereka hanya
lulusan STM. Sebab lembaga pendidikan yang dimiliki untuk mendidik
ahli bangunan pada masa itu hanya sampai tingkat STM. Mereka
inilah yang dipaksa melakukan pembangunan. Karena hanya lulusan
STM, tentu saja ilmu arsitektur mereka tidak seperti yang sarjana.
Tetapi keuntungan yang mereka peroleh pada masa itu, STM pada masa
itu juga diajarkan dasar-dasar ilmu arsitektur. "Inilah yang
menjadi pegangan para lulusan STM pada masa itu" tambah pak Joseph.

Para tenaga ahli dadakan ini punya kesempatan untuk menunjukkan
skil ke Indonesia-annya. Namun didalam hati, mereka juga
mempertanyakan ilmu arsitektur yang dimiliki. Usaha mempertanyakan
ini tidak sempat mereka renungkan. Tetapi harus segera ditunjukkan
dengan jawabannya. Karena mereka harus langsung bekerja. Pada
waktu itu, semangat nasionalisme yang kuat sedang tumbuh disetiap
hati rakyat Indonesia, termasuk para ahli dadakan ini. Dengan
landasan nasionalisme yang kuat, timbul usaha untuk tidak
membuat apa yang telah dibuat Belanda. Dengan kata lain tidak
boleh seperti itu. "Nah, itulah yang mendasari lahirnya Arsitektur
Jengki" kata pak Joseph.

Ciri-ciri Arsitektur Jengki
Langgam arsitektur Kolonial pada waktu itu banyak didominasi
oleh bidang-bidang vertikal dan horisontal. Langgam Arsitektur
Jengki justru berlawanan. Arsitektur Jengki bermain dengan garis
lengkung dan lingkaran. Misalnya, jendela yang tidak simetris,
overstek yang meliuk-liuk, garis dinding yang dimiringkan.
Bentuk-bentuk yang tidak semestinya pada masa itu. "Arsitektur
Jengki hanya mengolah perwajahan bangunan, baik itu luar maupun
dalam", jelas pak Joseph lagi. Selain wajah bangunan, juga
perabot rumah. Misalnya meja tamu dan kursinya. Bentuk tata
ruangnya masih mengikuti tata ruang bangunan Kolonial. Hal ini
terjadi karena keterbatasan ilmu arsitektur tadi.

Arsitektur Jengki juga mempergunakan bahan-bahan bangunan asli
Indonesia. Bahan yang dipergunakan harus bahan jadi, tidak
boleh mentah maksudnya dari perancangannya ketika itu. Untuk
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri
bahan bangunan yang diperlukan. Hasilnya adalah permukaan
bangunan yang dikasarkan, misalnya. Dikasarkan bukan kerikil,
karena kerikil yang diolah semacam itu buatan Belanda.
Permukaan kasar dibuat dari semen yang disemprotkan ke dinding
dan pemakaian roster. Pada bagian penutup atap juga diolah
sedemikian rupa. Kalau pada waktu itu bangunan Jengki dibuat
seperti jambul. "Sepertinya sengaja menghilangkan yang berbau
Belanda. Sehingga saya dapat mengambil kesimpulan bahwa
Arsitektur Jengki murni hasil pemikiran bangsa Indonesia.
Saya juga mencoba melihat literatur luar negeri kalau mungkin
ada satu langgam yang dipakai untuk Arsitektur Jengki. Ternyata
tidak ada", tambahnya. Melihat hal ini pak Joseph mengambil
kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki adalah murni karya bangsa
Indonesia. Tidak berkiblat kepada aliran arsitektur manapun
di dunia termasuk juga Arsitektur Nusantara (kata Indonesia
ada setelah 17 Agustus 1945).

Semangat dekoratif yang dimiliki oleh para arsitek pada saat
itu cukup kuat dan bagus. Unsur dekoratif inilah yang oleh
pak Joseph dianggap mewakili arsitektur Nusantara. Kalau kita
perhatikan, pada setiap arsitektur tersebut? Dekoratifnya.
Jadi Arsitektur Jengki menghadirkan Arsitektur Nusantara lewat
unsur ini. Bukan lewat bentuk. "Semangat Bhineka Tunggal Ika
hadir melalui arsitektur Jengki. Oleh sebab itu saya dapat
mengatakan bahwa Arsitektur Jengki adalah arsitektur Indonesia
yang pertama", tegas arsitek alumni ITS tahun 1976 ini.

Contoh bangunan dengan arsitektur Jengki ini dapat kita lihat
pada rumah-rumah dikawasan Kebayoran Baru untuk Jakarta. Di
Surabaya misalnya Stadion Gelora Pancasila, Pabrik Coklad di
Jl. Kalisari dan rumah tinggal di Jl. Embong Ploso 12 (saat
tulisan ini dibuat sudah dirobohkan). Biasanya unsur Jengki
lebih banyak hadir pada bangunan rumah tinggal. Mengenai hal
ini pak Joseph menambahkan, "tidak adanya dana untuk membangun
menyebabkan lebih banyak rumah tinggal". Hal ini juga diakui
oleh Van Lier Dame ketika berjumpa dengan beliau. Van Lier Dame
pada sekitar tahun 1950 bekerja di Indonesia sebagai arsitek.
Dia mengakui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia
ketika itu adalah kelangkaan bahan dan kemiskinan uang.
Sehingga merekapun dituntut bekerja secara efisien.

Mengapa Disebut Jengki?
Ada beberapa pendapat mengapa langgam ini disebut Jengki.
Misalnya dari kata Yangkee, sebutan untuk tentara Amerika dalam
arti yang negatif. Namun arsitek Malang 48 tahun silam ini
mengambil dari sebuah metode pakaian pada waktu itu, seperti
misalnya celana Jengki, baju jengki, mode yang sedang trend
sekitar tahun 50-an.

Saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya
banyak sekali hadir bangunan dengan langgam yang mirip
dengan Jengki. Menjawab pertanyaan ini, Pak Joseph menjelaskan
bahwa tidak bisa disamakan. Mengapa? karena arsitektur Jengki
ketika itu merupakan pembongkaran terhadap arsitektur Belanda.
Kalaupun ingin disebut sebagai dekonstruksi, maka yang kita
lihat sekarang ini adalah dekonstruksi babak II. Langgam yang
hadir melalui tangan-tangan arsitek muda ini oleh pak Joseph
dikatakan beraliran Lead Modern. Arsitektur Jengki hadir
pada masa itu karena semangat ingin bebas dari pengaruh
kolonial, sedang bentuk-bentuk yang hadir sekarang ini tentu
hadir dengan semangatnya sendiri.

Arsitektur Jengki pernah hadir menambahkan khasanah arsitektur
Indonesia. Lahir oleh karena keadaan yang memaksa. Kalau sampai
saat ini kita masih disibukkan dengan mencari bentuk arsitektur
Indonesia (yang ke-2?) dan belum menemukannya, mungkinkah
karena semangat, tujuan dan keadaan yang mendasarinya berbeda?
Jawabannya terletak pada jati diri kita masing-masing yang
sekarang ini mengaku dirinya sebagai Arsitek Indonesia.

Arsitektur Indonesia
Majalah Komunikasi Arsitek Indonesia

Sumber : http://adhisthana.tripod.com

House of Steel

BEAUTIFUL ARCHITECTURE OF THE WORLD

BEAUTIFUL ARCHITECTURE OF THE WORLD

Znamensky Cathedral Moscow Russia
Yeni Mosque Istanbul Turkey
Town Hall Wroclaw Poland
Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Mosque.
Sidi Sahbi Mosque Kairouan Tunisia
Sacre Coeur Paris France


Shoppingat Harrods London England



Putra Mosque Kuala Lumpur Malaysia


Plougrescant Brittany France
Plaza De Espana Seville Spain
Penon DeIfach Calpe Spain
Old Walled City Israel.


Old Town Mazatlan Mexico.
Mission Santa Barbara , Santa Barbara C ali


Notre Dame Basilica Montreal Canada.
Mission San Jose , San Antonio Texas
Miracles Logan Temple, Utah.
La Parroquia Church San Miguel de Allende
Ksar Ouled Soultane Tataouine, Tunisia
Hallowed Halls The Capitol Building

Countryside Pagoda Bagan Myanmar


Taj Mahal, Agra, India
Chiang Kai-Shek Memorial Hall,Taipei,Tai
JAPAN/Toji Temple, Kyoto Japan

Museum Tsunami Selesai Dibangun

Museum Tsunami Selesi Dibangun

Museum tsunami hasil kompetisi desain yang dimenagkan oleh Ridwan Kamil dan timnya di tahun 2007 ini telah selesai dibangun. Monggo disimak....

Kereen... Semoga makin banyak bangunan sekeren ini di Indonesia... Sip!
konsep dan gambar pra desain bisa dilihat disini
Foto didapat dari World Architecture News

situs penting arsitektur

  • Airmas Asri
    alambina
    Andri Yatmo
    Anggara Architeam
    Anneke Architects
    Arcamaya
    ARD-design
    Archimetric
    Arkitekton Limatama
    Arkonin
    Arsiplan
    Arsitektur Info
    Arsitektur Indis
    Arsitektur Journal
    Arsitek Arupadatu
    Asta Bumi Karya
    Arte Architect
    Atelier Two
    Astudio
    Bangun Rumah Persada
    Batavizia
    BE Studio
    BM Dino
    Citra Duta Artistry
    Cipta Graha
    DCM
    Encona International
    ESA International
    Evolver Architects
    Garizh Dizain
    Gede Agus Architects
    Grahacipta Hadiprana
    IVAA
    Hakara
    HST Architects & Designers
    Image Design
    Incomex Intra
    IndonesiaUrbanStudies
    Indra Tata Adilaras
    Intercipta Graha Nuansa
    Juxtapose
    Kartono Architects
    Lauw Design Studio
    Mamostudio
    Meter Design
    Nannini
    Nuring
    P A I
    Pavilion95
    PTI architects
    Rancang Nuansa Nirmana
    Raul Renanda
    Rusli Associates
    Sekawan Designinc Arsitek
    Studiobumi
    Studioilalang,
    Tetra Design,
    tobucil
    Trimatra Hadi Graha
    urbane
    Venturer Design
    Wijaya Tribwana International
    Wastumaya
    Wiratman & Associates
  • Zenin Adrian

    Foto Arsitektur keren , 100 Amazing Flickr Collections for Architecture Buffs

    Foto Arsitektur keren , 100 Amazing Flickr Collections for Architecture Buffs

    Saya baru baca email pagi ini dan nyangkut di email yang dikirim salah seorang arsitekturiners. Beliau mengirimkan link foto-foto arsitektur yang sayang kalau dilewatkan.
    Silahkan klik di 100 Amazing Flickr Collections for Architecture Buffs.
    Selamat menikmati.

    Thanks to Kelly Sonora

    Rumah Adat Banjar

    Rumah Adat Banjar

    Jenis-jenis Rumah Adat Banjar
    1. Rumah Bubungan Tinggi
    2. Rumah Gajah Baliku
    3. Rumah Gajah Manyusu
    4. Rumah Balai Laki
    5. Rumah Balai Bini
    6. Rumah Palimbangan
    7. Rumah Palimasan (Rumah Gajah
    8. Rumah Anjung Surung (Rumah Cacak Burung)
    9. Rumah Tadah Alas
    10. Rumah Lanting
    11. Rumah Joglo Gudang
    12. Rumah Bangun Gudang
    Sejarah dan Perkembangan Rumah Adat Banjar
    Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45º.

    Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang.

    Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620.

    Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan.

    Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi.

    Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tamapak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar.

    Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung.

    Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain.

    Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan.

    Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan kesultanan berupa emas dan perak.

    Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang.

    Selain bangunan-bangunan tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku, Palembangan, dan Balai Seba.

    Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung.

    Sehingga pada akhirnya bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.

    Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

    Sekalipun bentuk rumah-rumah yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan.

    Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat dijumpai di daerah Kotawaringin Barat, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai.

    Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah.

    Sultan Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah.

    Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai sultannya yang pertama.

    Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka.

    Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.